Ba’da Basmalah, kuawali menulis hari ini..
Sudah lama tak menulis, jadi membuatku kangen dan ingin menarikan kembali
jari-jari tangan ini di atas kumpulan huruf-huruf keyboard.. *lebay dikit, hehe
Ingin sedikit berbagi pengalaman kemarin siang saat aku dan suami pulang
dari Bandung. Kebetulan rambut suami sudah cukup “jabrig” dan saatnya potong
rambut.. sudah menjadi kebiasaannya saat ku mintai potong rambut, ia selalu
berwajah musam, “lagi trend, sayang!” jawabnya. Namun setelah ku mencoba
sedikit memakasa, akhirnya mau hehe..
Siang itu, pertama kalinya aku menunggu suami potong rambut. Disela-sela menunggu
ku lihat keahlian sang pencukur rambut yang cukup telaten namun sedikit lunglai.
Namun, ada yang berbeda saat aku lihat wajah suamiku, ia terlihat muram “ah,
mungkin ia masih marah karena enggan di potong rambutnya.” Pikirku. Namun ternyata
karena hal lain yaitu takut sang pencukur salah menempatkan gunting rambutnya
karena sesampai kami disana tukang cukurnya baru bangun tidur dan masih
terlihat gak fokus, hihi..
15 menit sudah ku menunggu, ternyata belum kelar juga. Ku mencoba melihat
keluar ruangan karena menurutku ada yang menarik. Ada seorang bapak yang sedang
memunguti sampah plastik dan kertas. Tanpa rasa jijik dan malu, bapak itu
memunguti sampah dari satu rumah ke rumah lain kemudian memasukkannya ke dalam
karung yang sudah disiapkan. Mungkin bagi Bapak itu, kumpulan sampah plastik
dan kertas itu bagaikan gundukan emas yang siap di jual demi menghidupi
keluarganya. sampah yang kebanyakan orang dianggap menjijikan dan bau, dimata
Bapak itu adalah kumpulan nafkah untuk keluarganya. Kasihan?
Tak perlu dikasihani, yang harus dikasihani adalah diri kita sendiri. Sudahkah
kita menjadi orang yang berdaya, bermanfaat, dan taat di mataNya? Karena boleh jadi, Bapak itu
lebih bermanfaat dan banyak amal ibadahnya karena telah memberikan nafkah
dengan cara yang halal dan membantu dalam mengatasi persoalan sampah yang saat
ini masih menjadi masalah besar.
Sukses kah bapak itu?
Kesuksesan bukan dilihat dari profesi dan harta. Boleh jadi bapak itu lebih
sukses dan lebih kaya (hati), mungkin harta pas-pas an, namun kekayaan hati itu
lebih mahal dari segalanya. Apa itu kaya hati?
![]() |
| Lihat Gambar |
Kekayaan yang selalu merasa cukup dengan apa yang diberi, selalu merasa
qona’ah (puas) dengan yang diperoleh dan selalu ridho atas ketentuan Allah.
Dalam riwayat Ibnu Hibban, Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasihat
berharga kepada sahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau
memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya (ghoni)?” “Betul,” jawab
Abu Dzar. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta
itu berarti fakir?” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa. Lantas
beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya (ghoni) adalah kayanya
hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati
(hati yang selalu merasa tidak puas).” (HR. Ibnu Hibban.
Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim) (dikutip dari rumaysho.com)
Kaya hati yaitu kekayaan yang tumbuh bersamaan dengan iman, ikhlas, sabar,
dan pantang menyerah. Kekayaan yang berdampak pada pergaulan di lingkungan,
diterima masyarakat, jauh dari ujub, ria dan takabur.
Dan hari itu, aku kembali belajar untuk menyeimbangkan dalam memiliki
kekayaan hati, ilmu dan harta..
Mudah-mudahan kita mampu menggapai semuanya Lillahita’ala.. aamiin yaa
Robbal’alamiin

No comments:
Post a Comment