![]() |
| Lihat Gambar |
Sebenarnya belajar
mencintai itu mudah-mudah gampang. Jika orang yang dekat dengan kita tulus
hatinya, maka mencintainya mudah dan bertumbuh. Namun sebaliknya, jika tidak
ada ketulusan untuk memberi lebih, maka akan banyak tuntutan dan kekecewaan.
Meskipun kami baru setahun pernikahan, namun kami masih terbilang awal
untuk mengenal kata mencintai. Tapi, menurutku ini hal yang wajar karena dalam
membangun rumah tangga membutuhkan kebersamaan yang lebih lama dan setahun
bukan waktu yang cukup. Dan kami membutuhkan waktu yang lebih lama lagi untuk
lebih saling mengenal, saling memahami dan saling mengerti..
Dalam sebuah keluarga, terkadang ada orangtua untuk memahami anaknya tidak
cukup setahun, melainkan bertahun-tahun. Bahkan sampai usianya dewasa pun belum
tentu memahami satu anggota dengan anggota lainnya, bagaimana kami yang baru
satu tahun. Mudah-mudahan langgeng terus dan senantiasa dalam keridhoan Allah
SWT. Aamiin
Oia, tulisan ini merupakan refleksiku setahun pernikahan. Ternyata memang
tidak mudah menikah itu, baik sebelum maupun sesudahnya. Memang secara
formalitas mudah, klo mentok kitanya tidak punya biaya berlebih ya datang aja
ke KUA, biaya disana lebih murah dan
secara hukum agama Islam sudah sah. Sayangnya, zaman sekarang sudah menjadi
sebuah “gengsi” jika pernikahan diadakan
di KUA saja tanpa ada hiburan dan resepsi yang bisa meraup kocek yang tidak
sedikit. Padahal esensi pernikahan bukanlah pada resepsinya melainkan pada
ikrar janji suci yang terkemas dalam akad nikah. Dalam islam, untuk
mengungkapkan rasa syukur Rasul pun mencontohkan untuk mengadakan syukuran
(sederhana) sehingga saudara, sahabat dan orang lain pun merasakan kebahagiaan
yang dirasakan sepasang pengantin.
Pernikahan adalah tempatnya membangun cinta dan kasih yang sudah
terlegalisasi baik dimata Allah SWT maupun dimata manusia. Merajut cinta dari
hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun hingga sampai pada masa cinta itu
menjadi sebuah ruh yang saling berkaitan dan saling memahami.
Belajar mencintai itu bagaikan sebuah benih pohon yang sedang ditanam, untuk menjadi pohon
yang besar pasti membutuhkan waktu, kesabaran dan saling support mulai
dari akar, batang, daun dan ranting. Hingga sampailah pada suatu masa pohon itu
menjadi besar dan menghasilkan buah-buahan yang bisa bermanfaat bagi oranglain serta
dapat memberikan oksigen bagi kehidupan.
Begitu pun dalam sebuah pernikahan...
”Jika
ada manusia belum hidup bersama pasangannya, berarti hidupnya akan timpang dan
tidak berjalan sesuai dengan ketetapan Allah SWT dan orang yang menikah berarti
melengkapi agamanya, sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa diberi Allah seorang istri
yang sholihah, sesungguhnya telah ditolong separoh agamanya. Dan hendaklah
bertaqwa kepada Allah separoh lainnya.”(HR. Baihaqi).

.jpg)
.jpg)
.jpg)















